Screenshot_14
dinervt news Mbah Fanani Dianggap Memiliki Kelebihan

Mbah Fanani Dianggap Memiliki Kelebihan

Beberapa orang mengaku mbah Fanani memiliki ‘kelebihan’. Walau diluar nalar, namun yang tampak terang yaitu sepanjang beberapa puluh th. dia tinggal di tenda hanya bersarung tidak tebal kuat menahan dinginnya cuaca Dieng. Menurut Surip apabila orang umum semalam saja tentu akan tidak tahan. Diluar itu, cuma rambutnya yang tumbuh memanjang. Sedang kuku, kumis serta jenggot tak memanjang. Saat hujan deras, tenda mbah Fanani tak pernah ke masukan air. Walau sebenarnya jalanan depan tendanya digenangi. Warga juga tidak mencium bau kotoran atau aroma tidak enak yang lain. Biasanya demikian lama tinggal bau menyengat akibat kotoran, tempat yang lembab atau tubuh bakal tercium bau menyengat.

Bila manusia umum saat makan serta minum bakal keluarkan kotoran. Namun waktu Surip serta warga lain bersihkan tenda, sesudah mbah Fanani dibawa tidak tampak ada kotoran di dalamnya.

” Warga bareng-bareng bersihin nyatanya tidak becek, tidak digenangi air. Tidak ada kotoran, ” tuturnya.

Sampai kini warga tak pernah terasa terganggu dengan hadirnya mbah Fanani. Prinsip warga setempat bila orang tak mengganggu mereka juga akan tidak mengusik. Terutama Mbah Fanani terlebih dulu telah di kenal petapa. Sebelumnya di tenda depan tempat tinggal warga, dia sepanjang dua th. bertapa dibawah jembatan yang berjarak 500 mtr. dari tenda saat ini. Sebelumnya itu tapa di desa Stieng.

Dari jembatan ke depan tempat tinggal Uripah, kata Surip, mbah Fanani jalan jongkok. Waktu itu dia cuma bersarung. Lalu berhenti di depan tempat tinggal Uripah. Lantas orang-tua Uripah memberi plastik untuk melindunginya dari panas serta hujan.

Karena biasanya beberapa orang berkunjung ke mbah Fanani, plastik itu tak pernah ditutup kembali. Pada akhirnya warga berinisiatif bangun tenda dari terpal.

Mbah Fanani cuma bersedia di beri makan oleh Uripah. Apabila Uripah tak mengantarkan makan ke tendanya jadi dia tak makan atau memohon. Terkecuali Uripah, warga lain yang berikan makan tak pernah dikonsumsi.

” Mungkin saja hatinya pas sama Bu Uripah, ” ucap Surip.

Oleh karenanya warga heran saat lihat tulisan di sosial media, lihat mbah Fanani di Indramayu makan disuapi. Menurut dia, sepanjang di Dieng tak pernah minta suapi. Dia makan serta minum dengan sendirinya. Warga cuma dapat iba dengan mbah Fanani apabila digunakan untuk kebutuhan lain.

” Takutnya ujung-ujungnya kaya Dimas Kanjeng, cari uang, ” ketusnya.

Warga Dieng bakal terasa suka bila Mbah Fanani dapat balik lagi ke desa mereka. Menurut dia sepanjang beberapa puluh th. bertapa warga tak pernah memakai mbah Fanani. Dia meyakini Uripah serta keluarganya juga tak lakukan hal semacam itu. Surip memberikan keyakinan kalau keluarga Uripah orang yang dapat dengan cara ekonomi.

Walau kerap beberapa orang yang datang membawa makanan, minuman serta sarung, Uripah bakal membagi-bagikan ke warga. Hal semacam itu atas keinginan Mbah Fanani. Walau sudah pergi tetapi masihlah ada orang yang datang ke tenda mbah Fanani. Bahkan juga mereka tak yakin walaupun sudah diberitahu sebelumnya masuk ke tenda itu. Warga mengharapkan mbah Fanani sehat ditempat barunya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *